Humas-Stks, Bandung – STKS Bandung dibawah Pusat Penelitiannya kembali menyelenggarakan  kegiatan  International Seminar  On Social Work Update (ISSW) 2018. Seminar sehari yang dilaksanakan pada hari Senin (26/3) di Gedung Auditorium, Kampus STKS Bandung ini, diikuti oleh 500 orang peserta dari 3 (tiga) negara yaitu Indonesia, Malaysia dan Australia yang berasal dari Kementerian Sosial RI, STKS Bandung, Universiti Utara Malaysia (UUM) Griffith University, Australia, Universitas Padjadjaran, Universitas Pasundan dan Universitas Langlangbuana.

Pelaksanaan ISSW 2018 termotivasi oleh situasi dan keprihatinan dimana keberadaan pekerja sosial sebagai sebuah profesi di Indonesia belum mendapatkan pengakuan dan masih harus diperjuangkan. Oleh sebab itu, seluruh aktor yang terlibat di dunia pekerjaan sosial harus meningkatkan dan mengembangkan pengetahuannya sehingga profesi pekerja sosial bisa dikenal oleh masyarakat. Dilandasi hal tersebut, ISSW 2018 mengusung tema “Issues of Contemporary Social Problem and Intervention”. Tema ini dipilih karena meningkatnya isu-isu permasalahan sosial yang semakin kompleks dan berkelanjutan, sehingga membutuhkan pemikiran kreatif dalam mengembangkan model intervensi.

Staf Ahli Menteri Bidang Aksesibilitas Sosial, Drs. Marjuki, M.Sc menyampaikan apresiasinya dan sekaligus secara resmi membuka pelaksanaan seminar internasional ini. Dalam sambutannya, Marjuki mengingatkan kembali bahwa kompleksitas permasalahan sosial menuntut penanganan yang komprehensif dan profesional. Pengembangan infrastruktur pendukung (kebijakan, perundang-undangan, kelembagaan dan asosiasi)serta teknologi praktik pekerjaan sosial juga perlu diperkuat sesuai dengan permasalahn sosial yang kekinian.” Pengembangan fungsi pelayanan sosial yang menyangkut aspek perlindungan sosial, rehabilitasi sosial dan pemberdayaan sosial harus selalu diupdate. Upaya ini perlu menjadi perhatian untuk menunjang eksistensi pekerjaan sosial dalam penanganan masalah sosial”, ujarnya.

Walaupun hanya dilaksanakan 1 (satu) hari, seminar internasional kali ini menghadirkan 3 (tiga) pembicara utama pada plenary session. Dirjen Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI, Edi Suharto, Ph.D  mempresentasikan tentang Rehabilitasi Sosial dan Tantangan Pekerjaan Sosial di Indonesia. Edi mengatakan bahwa jumlah masyarakat yang memiliki permasalahan sosial dan membutuhkan intervensi rehabilitasi sangat tinggi di Indonesia dan cenderung semakin meningkat setiap tahunnya. Oleh sebab itu, pemerintah harus merespon isu-isu krusial yang bisa menghambat proses rehabilitasi dengan meningkatkan berbagai sumber dan kebijakan sosial. Masa depan pekerja sosial di Indonesia juga membutuhkan kerjasama strategis baik dari institusi pendidikan, pemerintah dan pelaku bisnis. Jaminan kualitas pendidikan dan praktik pekerjaan sosial juga sangat penting untuk menghasilkan pekerja sosial yang kompeten.

Sementara itu, Prof. Patrick O’Leary dari School of  Human Services and Social Work, Griffith University, Australia, mengangkat topik harapan yang bisa diraih melalui praktik pekerjaan sosial. Patrick berpendapat bahwa pekerjaan sosial merupakan sebuah seni dalam mendengarkan dan pengetahuan tentang harapan. Harapan sangat penting dalam pekerjaan sosial, karena bisa menumbuhkan kekuatan dalam menghadapi masa depan dan menginspirasi pelakunya sebagai seorang profesional untuk tetap menjunjung tinggi nilai-nilai dan tujuan profesi.  Sedangkan Prof. Dr. Noor Azniza Ishak dari School Of Applied Psychology, Social Work And Policy, Universiti Utara Malaysia mempresentasikan tentang pemahaman dan dukungan revolusi industri bagi keberlangsungan masyarakat dan individu. Menurut Noor Azniza, perkembangan revolusi industri dan teknologinya saat ini berkembang sangat pesat dan berdampak pada bidang sosio-ekonomi. Dalam menghadapi transformasi tersebut dibutuhkan pendekatan yang holistik yang ditekankan pada solusi yang inovatif dan berkelanjutan. Interaksi antara teknologi dan inovasi sosial dalam paying yang sama bisa menghasilkan sesuatu yang proaktif, dengan strategi yang tepat bisa kolaborasi keduanya dapat mendongkrak perekonomian, mensejahterakan masyarakat dan melindungi lingkungan.

Di samping plenary session juga dilaksanakan parallel session dibagi ke dalam 3 (tiga) kelompok tema terkait proteksi sosial, rehabilitasi sosial dan pemberdayaan sosial. Masing-masing kelompok menampilkan presentasi yang disampaikan oleh pemateri dari STKS bandung, Universiti Utara Malaysia, Universitas Padjadjaran, Universitas Pasundan dan Universitas Langlangbuana. Parralel session ini dilaksanakan di 3 (tiga) ruang berbeda yaitu Gedung Auditorium, Gedung Perpustakaan dan Instalasi serta Ruang Kelas Kampus STKS Bandung dan dihadiri oleh dosen dan mahasiswa STKS serta tamu undangan lainnya.

Melalui pelaksanaan ISSW 2018, dapat diperoleh hasil yang bisa mengidentifikasi isu-isu spesifik mengenai permasalahan sosial dan mengenali berbagai tantangan dalam pelaksanaan praktik pekerjaan sosial, khususnya di Indonesia. Harapannya, Indonesia juga  bisa mempelajari berbagai perkembangan praktik pekerjaan sosial di berbagai negara untuk memperkuat dan mengembangkan sistem praktik pekerjaan sosial dalam penanganan masalah sosial di Indonesia. Selain itu, Indonesia juga bisa mempelajari dan mengikuti aplikasi, teknologi dan metode praktik pekerjaan sosial terkini di berbagai negara, yang tentunya akan memberikan penguatan terhadap profesi pekerja sosial di Indonesia.***nyna